• ,


      Di masa mudanya, ia seorang penggembala. Tatkala itu, belumlah balig usianya, disusurinya jalan-jalan setapak di bukit, jauh dari keramaian orang-orang di Mekkah, untuk menggembalakan domba-domba milik Uqbah bin Mu'aith, salah seorang kepala suku Quraisy. Orang-orang memanggilnya "Ibnu Ummi Abd" (anak dari budak perempuan). Namun namanya yang sebenarnya adalah Abdullah, dan ayahnya bernama Mas'ud.



      Kabar tentang seorang Nabi yang muncul di tengah-tengah masyarakat telah sampai di telinganya. Namun hal itu tak mengusiknya karena usianya yang masih begitu muda dan sehari-hari pun ia berada jauh dari penduduk Mekkah di luar sana. Sudah lazim baginya pagi-pagi sekali ia pergi menggembala dan tak kembali hingga petang menjelang.

      Suatu hari, Abdullah melihat dua orang, paruh baya usianya dan tampak bermartabat, mendatanginya dari kejauhan. Keduanya tampak sangat kelelahan. Haus dahaga terlihat dari bibir dan mulut mereka yang kering. Kedua orang itu menghampirinya, mengucapkan salam lalu berkata: "Hai anak muda, cobalah kau perah susu domba-domba ini agar kami bisa melepas dahaga dan memulihkan tenaga kami."

      "Tidak bisa, tuanku," jawab si anak muda. "Gembalaan ini bukan milikku. Aku hanya ditugaskan menjaga mereka."
      Kedua orang itu tak membantahnya. Sebaliknya, meski sangat kehausan, mereka senang dengan jawaban yang jujur dari anak muda itu. Ada rona kebahagiaan di wajah mereka.
      Dua orang itu adalah Rasulullah SAW bersama salah seorang sahabatnya, Abu Bakar Siddiq r.a. Hari itu mereka pergi menuju perbukitan Mekkah, menghindar dari sebuah upaya penganiayaan orang-orang Quraisy terhadap mereka.
      Sang anak muda tampak terkesan oleh sosok Nabi dan sahabatnya itu. Ia pun lalu akrab dan bersahabat dengan mereka.

      Tak butuh waktu lama bagi Abdullahbin Mas'ud untuk kemudian menjadi seorang Muslim, lalu menawarkan dirinya untuk melayani Rasulullah. Nabi setuju, dan semenjak hari itu, Abdullah bin Mas'ud berhenti menggembalakan domba dan mulai melayani kebutuhan-kebutuhan Nabi.
      Abdullah bin Mas'ud menjadi orang yang sangat dekat dengan Rasulullah. Ia membantu menyiapkan kebutuhan Beliau baik di dalam maupun di luar rumah, menemani dalam perjalanan, membangunkan dari tidurnya, menutupi dengan kain tatkala Beliau mandi, membawakan barang-barang dan siwak (sikat gigi) serta berbagai kebutuhan pribadi lainnya.

      Abdullah bin Mas'ud memperoleh pelatihan khusus di dalam rumahtangga Rasulullah. Ia senantiasa dibimbing oleh Beliau, meniru tata cara Beliau, mengikuti setiap tindak-tanduknya, sampai-sampai kata orang: "Ia orang yang paling mirip dengan kepribadian Rasulullah."
      Abdullah belajar di "sekolah" Nabi. Ia pembaca Al-Qur'an terbaik di antara para sahabat dan termasuk yang paling paham tentangnya. Ia lah yang paling alim tentang Syariat. Tak ada yang lebih dapat menggambarkan tentang hal ini selain kisah seseorang yang datang kepada Umar bin Khattab r.a. tatkala ia berdiri di Padang Arafah, orang itu berkata:
      "Wahai Amirul Mu'minin, aku datang dari Kufah, di sana ada seorang yang banyak berbicara isi Al-Qur'an hanya dari ingatan di kepalanya saja." Umar menjadi marah dan gusar. "Siapa dia?" tanya Umar. "Abdullah bin Mas'ud," jawab orang itu. Mendengar jawaban itu, reda lah hati Umar dari kemarahannya, lalu ujarnya: "Demi Allah, tiada kutemui seseorang yang lebih baik mengenai hal ini selain dia. Kuceritakan sesuatu kepadamu." Lanjut Umar: "Suatu malam, Rasulullah sedang berbicara dengan Abu Bakar tentang situasi Kaum Muslim saat itu. Aku pun ada di sana. Lalu Rasulullah keluar, dan begitu pula kami bersama Beliau. Tatkala melewati masjid, ada seseorang yang tak kami kenali sedang berdiri shalat di sana. Rasulullah berhenti dan mendengarkan orang itu, lalu berkata kepada kami: 'Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an persis seperti ketika ia diturunkan, maka bacalah sebagaimana Ibnu Ummi Abd membacanya.'”

      Selepas sholat, tatkala Abdullah sedang duduk berdoa, Rasulullah berkata: "Mintalah, maka akan dikabulkan bagimu. Mintalah, maka akan dikabulkan bagimu." Umar melanjutkan kisahnya, "Batinku, biarlah kutemui Abdullah bin Mas'ud ini dan menceritakan kabar baik kepadanya bahwa Rasulullah telah menjamin doa-doanya itu terkabul. Aku pun segera beranjak menemuinya, namun kudapati Abu Bakar telah pergi terlebih dulu dan menceritakan kabar baik itu kepadanya. Demi Allah, aku belum pernah mengalahkan Abu Bakar dalam lomba kebaikan seperti ini."
      Abdullah bin Mas'ud memperoleh pengetahuan sedemikian baik tentang Al-Qur'an sampai ia mengatakan, "Demi Dia yang tiada tuhan selain-Nya, tidak ada satu ayat pun dari Kitabullah yang turun tanpa sepengetahuanku, di mana turunnya, dan dalam situasi apa. Demi Allah, jika ada seseorang yang lebih tahu tentang Kitabullah, akan kulakukan apapun untuk belajar darinya."
      Abdullah tidaklah berlebihan atas apa yang diucapkannya itu. Suatu kali, Khalifah Umar berpapasan dengan rombongan kafilah di perjalanan. Kala itu hari sudah gelap dan wajah orang-orang di dalam kafilah itu tak lagi terlihat jelas. Umar tak menyadari bahwa Abdullah bin Mas'ud berada di antara rombongan itu.

      "Dari mana kalian?" tanya Umar.
      "Dari ‘fajj amiq’ (lembah yang jauh)," ujar seseorang di dalam kafilah, menyebut sebuah istilah yang sangat khas dipakai di dalam Al-Qur'an (lihat misalkan di Q.S. Al-Hajj [22]: 27).
      "Lalu mau kemana?" tanya Umar lagi.
      "Kami mau ke ‘baytul ‘atiq’ (rumah tua)," jawabnya. Lagi-lagi, orang tersebut memakai salah satu sebutan khas Al-Qur'an dalam merujuk Baitullah, Mekkah (lihat misalkan di Q.S. Al-Hajj [22]: 29).
      "Rupanya ada seorang alim di antara mereka," bisik Umar dan ia memerintahkan seseorang untuk menanyakan lebih jauh.
      "Ayat mana yang paling hebat di dalam Al-Qur'an?"
      "Allah. Tidak ada tuhan selain-Nya, yang hidup kekal, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur," jawab orang itu seraya mengutip Ayat Kursi (Q.S. Al-Baqarah [2]: 255).
      "Ayat mana yang paling jelas dalam perkara keadilan?"
      "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat," jawabnya (lihat Q.S. An-Nahl [16]: 90).
      "Lalu mana yang paling meliputi seluruhnya?"
      "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula." (Lihat Q.S. Al-Zalzalah [99]: 7-8).
      "Yang paling memberi harapan?" 
      "Katakanlah. Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Lihat Q.S. Az-Zumar [39]: 53).
      Maka Umar pun bertanya:
      "Adakah Abdullah bin Mas'ud di antara kalian?"
      "Ada, demi Allah," jawab orang-orang di dalam kafilah.

      * * *



      Abdullah bin Mas'ud tak hanya seorang pembaca Al-Qur'an yang piawai, seorang alim dan hamba yang bersungguh-sungguh. Dia juga petarung yang berani dan kuat, dan sangat berbahaya jika situasi menghendakinya demikian.
      Suatu hari, para sahabat berkumpul di Mekkah. Bilangan mereka masih sedikit, lemah, dan tertindas. Mereka mengatakan, "Orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an dibacakan secara terbuka dan lantang. Siapa yang mampu membacakannya?"
      "Biar aku yang melakukannya," ujar Abdullah bin Mas'ud mengajukan diri. "Kami khawatir terhadapmu," tukas mereka. "Sebaiknya dilakukan orang dalam persukuan atau keluarga saja, sehingga bisa melindungi dari upaya jahat mereka."
      "Biar aku saja," desak Abdullah bin Mas'ud, "Allah akan menjaga dan melindungiku." Maka ia beranjak menuju masjid sampai ke Maqam Ibrahim (yang berada sekian langkah saja dari Ka'bah).
      "Biar aku saja," desak Abdullah bin Mas'ud, "Allah akan menjaga dan melindungiku." Maka ia beranjak menuju masjid sampai ke Maqam Ibrahim(yang berada sekian langkah saja dari Ka'bah). Kala itu fajar menyingsing dan orang-orang Quraisy duduk-duduk di sekeliling Ka'bah. Abdullah menghentikan langkahnya dan mulai membacakan dengan lantang:
      "Bismillahirrahmaanirrahiim. Ar-Rahmaan. 'Allama Al-Quran. Khalaqa Al-Insaan. 'Allamahu Al-Bayaan. Dengan asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tuhan Yang Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara..." (Lihat Q.S. Ar-Rahmaan [55]: 1-4).

      Dibacanya ayat-ayat itu satu demi satu. Orang-orang Quraisy tampak menyimak dan terkesima, lalu salah seorang bertanya: "Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abd itu?" Tatkala mereka berangsur-angsur menyadarinya, mereka pun berteriak: "Kurang ajar dia! Ia membacakan apa yang dibawa Muhammad!"
      Mereka memburu dan memukuli wajahnya, sementara bibirnya tetap membacakan ayat-ayat dari Kitabullah. Tatkala ia kembali kepada para sahabatnya, darah mengalir di wajahnya.
      "Inilah yang kami takutkan," ujar para sahabat. "Demi Allah," jawab Abdullah, "musuh-musuh Allah itu kini tak lebih tenang dari keadaanku sekarang. Jika kalian mau, aku akan kembali lagi esok hari dan membacakannya lagi kepada mereka." "Cukup bagimu," jawab mereka. "Engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang mereka benci."
      Abdullah bin Mas'ud hidup sampai pada masa kekhalifahan Utsman r.a. Tatkala ia terbujur sakit di ranjang kematiannya, Utsman datang menjenguk dan berkata:
      "Sakit apa yang kau derita?"
      "Dosa-dosaku."
      "Apa yang kau inginkan?"
      "Rahmat Tuhanku."
      "Maukah kubawakan upah-upahmu yang tak pernah kau ambil bertahun-tahun itu?"
      "Aku tak membutuhkannya."
      "Kalau begitu, biar untuk anak-anak perempuanmu sepeninggalmu."
      "Kau khawatirkan anak-anakku jatuh miskin? Aku sudah perintahkan mereka membaca Surah Al-Waaqi'ah setiap malam, karena aku mendengar Rasulullah berkata, ‘Siapa saja membaca Al-Waaqi'ah setiap malam, takkan tertimpa kemiskinan selama-lamanya.’"
      Malam itu, Abdullah pergi menemui Tuhannya, sementara lidahnya masih terlihat basah oleh dzikir dan bacaan ayat-ayat dari Kitab-Nya.

      (Diterjemahkan dari buku "Companions of Prophet" v. 1, karya Abdul Wahid Hamid)

      , ,

      Mush’ab bin Umair, Seorang Pemuda yang Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat

      Mush’ab bin Umair, Seorang Pemuda yang Menjual Dunia Untuk Membeli AkhiratUsia remaja atau masa muda merupakan awalan bagi seseorang untuk mulai mengenal dan juga merasakan manisnya dunia. Pada tahap ini, banyak pemuda yang lupa dan lalai, jarang sekali terlintas pikiran akan kematian di benak mereka. Apalagi untuk mereka orang-orang yang tergolong kaya, mempunyai fasilitas hidup yang sudah dijamin orang tua. Uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, Mobil yang bagus, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa dirinya ialah laksana seorang raja.

      Di zaman Nabi Muhammad SAW, hidup seorang pemuda yang kaya raya, berparas rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Dia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib saat pertama kali melihat Mush’ab bin Umair sampai di Madinah. Dia berkata,


      رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

      “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

      Dia adalah di antara pemuda yang paling kaya dan tampan di Kota Mekkah. Kemudian saat Islam datang, dia jual dunianya untuk kehidupan dan kebahagiaan kekalnya di akhirat.


      Kelahiran dan Masa Pertumbuhan Mush’ab bin Umair

      Mush’ab bin Umair dilahirkan pada masa jahiliyah, 14 tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 Masehi (Mubarakfuri, 2007: 54), dan Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 Masehi.

      Dia adalah seorang pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.

      Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir berkata, “Mush’ab merupakan seorang pemuda yang rapi dan tampan penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya ialah seorang wanita yang kaya raya. Sandal Mush’ab ialah sandal al-Hadrami, pakaiannya adalah pakaian yang terbaik, dan ia adalah orang Mekkah yang paling harum hingga semerbaklah aroma parfumnya, sampai meninggalkan jejak di jalan yang dia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


      مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

      “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

      Ibunya begitu memanjakannya, sampai-sampai waktu dia tidur dihidangkan nya bejana makanan di dekatnya. Saat dia terbangun dari tidurnya, maka hidangan makanan sudah tersedia di hadapannya.

      Seperti itulah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan begitu banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang seorang ibu, membuatnya tidak pernah merasakan kekurangan nikmat dan kesulitan hidup .


      Menyambut Hidayah Islam

      Orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Lalu diikuti oleh beberapa orang yang lainnya. Saat intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu‘anhu. Sebuah rumah yang bertempat di bukit Shafa, cukup jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.

      Mush’ab bin Umair yang hidup dan lahir di lingkungan jahiliyah; pecandu khamr, penyembah berhala, penggemar nyanyian dan pesta, Allah berikan cahaya di hatinya, sehingga dia mampu membedakan antara agama yang lurus dan agama yang menyimpang. Mana ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang. Dengan sendirinya dia menguatkan hati dan bertekad untuk memeluk agama Islam. Dia mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.

      Setelah itu Mush’ab merahasiakan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi dari kafir Quraisy. Dalam kondisi sulit tersebut, dia tetap istiqomah dalam menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama Islam yang baru dia peluk. Sampai akhirnya dia menjadi salah satu sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mush’ab bin Umair ke Madinah untuk berdakwah di sana.


      Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat

      Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka dia pun langsung melaporkan apa yang sudah dia lihat kepada ibunda Mush’ab bin Umair. Saat-saat itu ialah periode sulit dalam kehidupan Mush’ab bin Umair yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

      Mengetahui putra tercintanya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab bin Umair sangat kecewa bukan kepalang. Sampai-sampai Ibunya mengancam bahwa dia tidak akan minum dan makan juga akan terus berdiri tanpa naungan, baik di malam yang dingin atau di siang yang terik, sampai Mush’ab bin Umair meninggalkan agama Islam. Saudaranya Mush’ab yakni Abu Aziz bin Umair, tidak sanggup mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berkata, “Wahai ibu, biarkanlah dia. Sesungguhnya dia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau dia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Akhirnya Mush’ab bin Umair pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

      Hari demi hari dilalui, siksaan yang dialami Mush’ab bin Umair semakin bertambah. Bukan hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab bin Umair juga mendapatkan siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu begitu menyayanginya, dan kini begitu tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Sampai warna kulitnya berubah dikarenakan luka-luka bekas siksa yang menderanya. Tubuhnya pun yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

      Berubahlah seketika kehidupan pemuda yang kaya itu. Tidak ada lagi satu pun fasilitas kelas satu yang dia nikmati. Makanan, minuman dan pakaiannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib megatakan, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).

      Zubair bin al-Awwam berkata, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab bin Umair tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekkah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).

      Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu‘anhu megatakan, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

      Demikianlah perubahan kehidupan pemuda Mush’ab bin Umair ketika ia memeluk agama Islam. Dia mengalami begitu banyak penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang sebelumnya dapat dia nikmati tidak lagi ia dapatkan ketika memeluk agam Islam. Bahkan sampai dia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya sendiri. Dia juga mengalami penyiksaan secara fisik, sampai kulitnyapun mengelupas dan tubuhnya begitu menderita. Penderitaan yang dia alami juga bertambah dengan siksaan perasaan, saat dia melihat ibunya yang begitu di cintainya memotong rambutnya, tidak minum dan makan, kemudian berjemur di tengah panas teriknya matahari agar sang anak mau keluar dari agama Islam. Semua yang dia alami tidak membuatnya goyah keimanannya. Dia tetap berpegang teguh dengan keimanannya.


      Peranan Mush’ab bin Umair Dalam Islam

      Mush’ab bin Umair merupakan salah satu seorang sahabat nabi yang utama. Dia memiliki kecerdasan dan ilmu yang mendalam sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk berdakwah untuk para penduduk Yatsrib, Madinah.

      Sesampai nya di Madinah, Mush’ab bin Umair tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana dia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada seluruh penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah seperti Saad bin Muadz. Dalam waktu yang begitu singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan bahwa kedalaman ilmu dari Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang sangat baik terhadap Alquran dan sunnah, kecerdasannya dalam berargumentasi, dan bagusnya cara penyampaiannya serta jiwa yang tenang dan tidak terburu-buru.

      Kelebihannya tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab bin Umair berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah sebelumnya berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab bin Umair pun berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab bin Umair berkata kepada Saad bin Muadz, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab bin Umair pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, kemudian membacakannya Alquran.

      Saad bin Muadz memiliki kesan pertama yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang dia ucapkan. Kata Saad bin Muadz, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum dia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab bin Umair. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab bin Umair.

      Setelah itu, Saad bin Muadz berdiri dan berseru kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.

      Kemudian Saad bin Muadz mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besar wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad bin Muadz mengatakan, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

      Bahkan tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

      Karena taufik dari Allah, serta buah dakwah dari Mush’ab bin Umair, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad SAW (Madinah an-Nabawiyah).


      Wafatnya Mush’ab bin Umair

      Mush’ab bin Umair merupakan pemegang bendera Islam di peperangan. Pada perang Uhud, dia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil menceritakan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Dia berkata:

      Mush’ab bin Umair radhiyallahu‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab bin Umair adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab bin Umair membaca ayat:


       ۚ وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

      Bendera pun beralih dia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Setelah itu Mush’ab bin Umair mendekap bendera tersebut di dadanya sambil membaca ayat yang sama:


       ۚ وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

      Kemudian anak panah merobohkan Mush’ab bin Umair dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab bin Umair gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

      Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.


      Mush’ab bin Umair, Seorang Pemuda yang Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat

      Setelah perang telah usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuk Mush’ab bin Umair. Kemudian beliau membaca ayat:


      مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

      “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

      Kemudian beliau mempersaksikan bahwa para sahabat-sahabatnya yang telah gugur adalah syuhada di sisi Allah SWT.

      Kemudian, beliau berkata kepada jasad Mush’ab bin Umair, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekkah, tidak ada seorang pun yang lebih rapi penampilannya dan baik pakaiannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”

      Tidak ada sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai kain burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, jika ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

      Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.


      Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair

      Di masa setelahnya, setelah umat Islam berjaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu‘anhu yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair. Dia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang telah dihidangkan.

      Khabab berkata mengenang Mush’ab bin Umair, “Dia terbunuh di Perang Uhud. Dia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).


      Penutup

      Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi semua pemuda-pemuda Islam di penjuru dunia. Mush’ab bin Umair telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat yang kekal. Ia tinggalkan semua kemewahan dan kenikmatan dunia, ketika kemewahan dan kenimakatan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

      Mush’ab bin Umair juga merupakan salah seorang pemuda yang teladan dan sangat bersemangat menuntut ilmu, mengamlakannya, serta mendakwahkannya. Dia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.



      Sumber: www.KisahMuslim.com

      ,


      Dipost Tanggal : 27 February 2018 | Oleh : AgusRiyanto

      TANGERANG - Pemuda MTA nampak antusias mendengarkan pengarahan dan tausiyah ketua umum pemuda MTA pusat Ustadz DR (Eng).Wahyul amien syafei,S.T, M.T. 
      Acara NGOPI (Ngobrol pemuda Islam) Pemuda MTA Tangerang ini dilaksanakan di Gedung Pengajian MTA Tangerang jalan untung suarapai 2 No.38 cimone jaya, karawaci, tangerang. Pada senin, 26 Februari 2018.




      Sedikit gambaran acara NGOPI MTA, yaitu kegiatan kajian yang dipelopori oleh Pemuda Mta tangerang yang biasanya kajian dilaksanakan di cabang/perwakilan MTA sekitar Banten raya, masjid-masjid, atau kediaman pengurus MTA dengan tujuan selain media dakwah juga media silaturahmi. kegiatan NGOPI MTA ini sudah berjalan sejak tahun 2016 silam, dan sekarang adalah edisi ke-7 NGOPI MTA tangerang.




      Dalam Ngopi mta ke-7 ini pemuda berkenan silaturahmi dengan Ketua pemuda mta pusat disela-sela kunjungan beliau  ke Jakarta pada waktu itu beliau berkenan bersilaturahmi ke tangerang untuk sekedar tatap muka dan bertemu pemuda MTA di sektor banten tersebut. silaturahmi ini diikuti oleh lebih dari 100 pemuda di wilayah Banten & Jakarta barat, yaitu Pemuda MTA Kota Tangerang, Pemuda MTA Pasar Kemis, Pemuda MTA Cilegon, Pemuda MTA Panongan, Pemuda MTA Jakarta Barat.
      Dalam kesempatan itu Ustadz Wahyul menyampaikan perasaan bahagia dan senang karena dapat berkesempatan untuk bersilaturahmi dengan pemuda mta banten, beliau berpesan untuk para pemuda MTA untuk senantiasa semangat dan istiqomah dalam ikut berdakwah menyampaikan ilmu yang telah dipelajari didalam mengaji, beliu juga menambahkan bahwa salah satu tugas pemuda mta adalah membantu/support pengurus dalam mengabdi kepada umat dan yang perlu digaris bawahi pula bahwa generasi muda adalah estafet kepemimpinan nantinya.

      Post.Pemuda mta tangerang


      Segala Puji bagi Allah SWT yang Telah meberikan rahmat dan hidayah kepada kita semua.

      Pemuda MTA Perwakilan Kota Tangerang kembali mengadakan acara Ngobrol Pemuda Islam (NGOPI MTA) Edisi Ke-4. Setelah sebelumnya acara Edisi Ke-1 diselenggrakan di Masjid Raya Al-Azhom, Edisi Ke-2 diselenggarakan di Masjid Alun-Alun Kota Tangerang, dan Edisi Ke-3 diselenggarakan di Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Cabang Pasar Kemis (Kabupaten Tangerang). Acara NGOPI MTA Edisi Ke-4 kali ini di selenggarakan di Gedung MTA Perwakilan Cilegon. Tidak kalah ketinggalan, dalam acara ini pun turut di ikuti dan dihadiri oleh Pengurus MTA Perwakilan Cilegon dan Pemuda MTA Perwakilan Cilegon selaku tuan rumah.

      Peserta Ngobrol Pemuda Islam Edisi Ke-4 ini dihadiri lebih dari 30 jamaah, 18 jamaah merupakan Pemuda MTA Kota Tangerang dan selebihnya adalah jamaah Pemuda MTA Perwakilan Cilegon.

      Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Bapak Hariyanto selaku ketua Pemuda MTA Perwakilan Cilegon. Beliau menyampaikan, “Kegiatan Pemuda MTA Perwakilan Cilegon sejauh ini hanya berupa kegiatan yang berhubungan dengan Ke-Majlisan, baik kegiatan kerja bakti maupun kegitan kewirausahaan.”

      “Pemuda merupakan tongkat estafet perjuangan islam selanjutnya, untuk itu selalu pergunakanlah kesempatan muda ini dengan berbagai hal positif yang dapat mendukung dan menunjang kemajuan islam di kedepannya,” Lanjut Bapak Hariyanto.

      Selanjutnya Saudara Supriyanto menyampaikan tentang kepengurusan Pemuda MTA Perwakilan Cilegon, “Untuk Pemuda MTA Perwakilan Cilegon di ketuai oleh Bapak Hariyanto, dengan wakil Bapak Triyono. Sekertaris dari Pemuda MTA Perwakilan Cilegon di amantkan kepada Saudara Defri Amali dan dengan Bendahara Saudara Kunto Wahyudi”.

      Kegiatan berikutya di isi dengan Motivasi yang di sampaikan oleh Bapak Sarju Utomo selaku Pimpinan MTA Perwakilan Cilegon. Beliau menyampaikan, “Siapa yang tidak ingin sukses? Saya yakin semua orang ingin meraih kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebelum terlambat, mumpung masih muda, maka pergunakan masa muda dengan sebaiknya. Karena masa muda merupakan masa yang menentukan kehidupan kita kedepannya, apakah kita akan meraih kesuksesan atau kita malah meraih kegagalan.”

      Pemuda selalu ingin hidup bebas, tetapi kehidupan bebas pemuda terkadang malah melanggar peraturan. Pelanggran peraturan inilah yang bisa menyebabkan pemuda gagal meraih kesuksesan di masa mendatang. Untuk itu, teruslah merasa bodoh, supaya selalu ingin terus belajar menuntut ilmu,” Sambung Bapak Sarju dan sekaligus mengakhiri penyampaian motivasinya.

      Selanjutnya Perwakilan dari Pemuda MTA Kota Tangerang, yang pada kesempatan ini di wakili oleh Saudara Arosyid Ridwan memaparkan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemuda MTA Kota Tangerang dan kemudian di lanjut oleh Saudara Bombi selaku Perwakilan dari Pemuda MTA Cilegon yang menyampaiakn berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemuda MTA Cilegon.

      Kegiatan demi kegiatan telah terlewati dan untuk mengakiri kegiatan, kami tutup kegiatan NGOPI MTA Edisi Ke-4 ini dengan membaca “Hamdallah” di lanjutkan dengan membaca do’a Kafaratul Majlis.

      Sabtu, 6 Februari 2016 M / 29 Rabiul Akhir 1437 H


      Alhamdulilahirobbil’alamin, Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

      Pemuda MTA Perwakilan Kota Tangerang kembali mengadakan acara Ngobrol Pemuda Islam (NGOPI MTA) Edisi Ke-3. Setelah sebelumnya acara Edisi Ke-1 diselenggrakan di Masjid Raya Al-Azhom dan Edisi Ke-2 diselenggarakan di Masjid Alun-Alun Kota Tangerang. Acara NGOPI MTA kali ini di selenggarakan di Gedung MTA Cabang Pasar Kemis (Kabupaten Tangerang. Tidak kalah ketinggalan, dalam acara ini pun turut di ikuti oleh Pemuda MTA Cabang Pasar Kemis selaku tuan rumah.

      Peserta Ngobrol Pemuda Islam Edisi Ke-3 ini dihadiri lebih dari 21 jamaah, 14 jamaah merupakan Pemuda MTA Kota Tangerang dan selebihnya adalah jamaah Pemuda MTA Cabang Pasar Kemis.
      Kegiatan Ngobrol Pemuda Islam MTA dimulai dengan membaca “Basmallah” dan dilajut dengan membaca Al-Qur’an, tepatnya QS. Ali-Imran [3] : 123 – 129. Satu orang memimpin membaca Al-Qur’an, setelah selesai membaca satu ayat, diikuti secara bersamaan oleh seluruh jamaah yang hadir, begitu selanjutnya hingga ayat 129 Surah Ali-Imran.

      Kegiatan selanjutnya di isi dengan pemaparan dari salah satu delegasi Pemuda MTA Cabang Pasar Kemis dan dari delegasi Pemuda MTA Kota Tangerang. Pemaparan ini menjelaskan tentang berbagai kegiatan yang di lakukan oleh masing-masing perwakilan dan cabang terkait kegiatan kepemudaan. Kegiatan yang baik dan belum bisa dilakukan oleh perwakilan dan cabang bisa menjadi contoh untuk dilakukan di masing-masing perwakilan dan cabang. Dibahas pula mengenai berbagai rencana kegiatan selanjutnya, baik untuk mengadakan kajian gabungan pemuda maupun mengadakan turnamen futsal kecil.

      Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian motivasi dan semngat untuk pemuda MTA oleh Bapak Ustadz Wariso. Beliau menyampaikan, “Kegiatan positif seperti ini harus terus di jaga dan di lakukan, karena dalam hidup ini terdapat dua pilihan, kalau tidak di sibukkan dengan kegiatan positif, maka kegiatan negatiflah yang akan mengyibukkan diri kita.”
      Kemudia Beliau melampirkan hadits Rasulullah Saw dalam pemberian motivasi dan semangat untuk Pemuda MTA, 

      “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya’ pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata, Tujuh golongan tersebut adalah :
      1.   Imam (Pemimpin) yang adil. 
      2.    Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.
      3.   Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid. 
      4.   Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah. 
      5.   Dan seseorang yang diajak berzina oleh seseorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan ‘Sungguh aku takut kepada Allah’. 
      6.   Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di infaqkan oleh tangan kanannya. 
      7.   Dan orang yang berzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah (berjatuhan) air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim No.1031)

      Dari hadits yang di sampaikan di atas, Bapak Ustadz Wariso lebih menegaskan kepada poin ke-2 yaitu, “Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.” Beliau menasehati agar Pemuda MTA senantiasa menjadi pemuda yang kuat serta rajin dalam beribadah kepada Tuhan-Nya (Allah). 

      Beliau menutup tausiyahnya dengan menyampaikan kalimat yang di kutip dari salah satu hadits Rasulullah Saw, “Pergunakanlah Masa Muda-Mu Sebelum Datang Masa Tua-Mu.”

      Kegiatan demi kegiatan telah terlewati dan untuk mengakiri kegiatan kami tutup NGOPI MTA Edisi Ke-3 ini dengan membaca “Hamdallah” di lanjutkan dengan membaca do’a Kafaratul Majlis.

      Foto Terkait Kegiatan Ngobrol Pemuda Islam Majlis Tafsir Al-Qur'an (NGOPI MTA) Edisi Ke-3,


      Jomblo Mulia atau Pacaran Hina


      Kalau jadi perempuan tuh jangan seperti buah mangga.
      Belum dibeli aja udah boleh di pegang-pegang, boleh di pijit-pijit , bahkan boleh di cium cium.
      Kalau tidak jadi beli yang ada malah di tinggalin gitu aja.

      Maksudnya jadi perempuan tuh jangan mau di pandang murahan, jangan gampang atau mau diapain aja oleh lelaki yang belum sah secara agama.
      Khusus yang pacaran, sepertinya mudah banget melakukan hal seperti itu (dipegang, dicium dan sejenisnya).

      Ketika diingatkan, kok mau sih melakukan hal seperti itu?
      Jawabnya sederhana : diakan pacar saya.

      Sepertinya pacaran itu udah dianggap seperti pernikahan boleh melakukan hal apa saja yang di dalam pernikahan itu di lakukan (dipegang, dicium dan sejenisnya).

      Padahalkan antara pacaran dan pernikahan itu berlawanan arah.
      Lah kok bisa?

      Ya iya dong, Pernikahan itukan perintah Nabi, kalau pacaran itu perintahnya siapa? Perintahnya syaithon dong.

      Kalau Nabi mengajak kepada kebaikan, kalau syaithon mengajak kepada kemaksiatan.

      Kalau di tinggalin pacarnya tapi sudah berbuat seperti hal pernikahan yang ada malah nangis, kalau belum diapa-apain sih masih mendingan.

      Ayo yang masih pacaran mumpung belum terlalu banyak berlumpur dalam kemaksiatan, lebih baik diakhiri saja hubungan maksiatnya itu.

      Mari kita do'akan mereka yang masih pacaran supaya segera putus, Aamiin.

      Assalamu'alaikum Wr. Wb

      Segala puji bagi Allah, Seluruh pujian hanya layak untuk Allah saja, Dialah Tuhan, pencipta, pemelihara dan pemilik semesta Alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan kepada seluruh pengikut beliau yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya, dan salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

      11 Juli 2015 - Pemuda dan beberapa warga pengajian Majelis Tafsir Al-Qur'an (MTA) Tangerang mengadakan kegiatan I'tikaf di Masjid Baitul Ihsan - Bank Indonesia.


      Adapun data peserta yang mengikuti acara I'tikaf ini adalah :

      1. Arosyid Ridwan
      2. Hudzaifah
      3. Amri Syaifullah
      4. Fuad Hamzah Al-Farizi
      5. Muhyiddin Al Amin
      6. Fakhri Abdullah Rosyid
      7. Eko Fitriyanto
      8. Jamaludin
      9. Alif Dani
      10. Muhammad Zamil Maulana
      11. Bapak Sumpono
      12. Bapak Karyono dan satu anaknya
      13. Bapak Sukarno dan keluarganya

      Jamaah I'tikaf di Masjid Baitul Ihsan sangatlah banyak, mulai dari golongan muda hingga golongan tua baik itu pria maupun wanita. Setiap Peserta yang ingin melaksanakan I'tikaf di Masjid Baitul Ihsan haruslah membayar biaya pendaftaran I'tikaf dan infaq. I'tikaf ini sendiri diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari membaca Al-Qur'an hingga Sholat Shubuh berjamaah.

      Ada satu hal menarik yang diselenggarakan oleh Panitia I'tikaf Masjid Baitul Ihsan yaitu pada 10 malam hari terakhir. Dimana sang Imam Sholat haruslah membaca 3 juz dalam setiap kali pelaksanaan sholat tarawih. Banyaknya jumlah bilangan Sholat sunnah Tarawih ini adalah delapan dilakukan dengan dua kali salam, kemudian di lanjutkan dengan sholat sunnah witir sebanyak tiga rokaat dan tidak menyerupai sholat maghrib.

      Tiga juz ayat Al-Qur'an kalau kita perhatikan didalam Mushaf Al-Qur'an terdapat sekitar 60 halaman, dimana pada setiap juz terdiri dari sekitar 20 halaman (10 lembar). 

      Dalam pelaksanaan sholat lail di Masjid Baitul Ihsan, Imam sholat membagi-bagi bacaan Al-Qur'annya, yaitu pada setiap rokaat sholat Sang Imam membaca ayat Al-Qur'an sekitar 7 halaman. 7 halaman jika di kalikan dengan 8 rokaat maka hasilnya adalah 56 halaman. Tersisa sekitar 4 halaman dan di bagi-bagi oleh Imam untuk bacaan sholat witir yang jumlahnya 3 rokaat.

      Sempat ada keraguan diantara peserta I'tikaf apakah mereka akan kuat dalam melaksanakan sholat sunnah lail yang lumayan lama ini, karena jika di hitung-hitung sholat sunnah ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dan pelaksanaan sholatnya pun pada pukul 01.00 dikala mulai merasa ngantuk.

      Namun dengan semangat yang kuat dan tekad yang tinggi supaya bisa melaksanakan sholat lail hingga selesai akhirnya peserta I'tikaf dapat menyelesaikannya, walau setelah sholat mereka merasakan pegal-pegal pada kakinya.

      Tidak ada rasa menyesal dari peserta I'tikaf, bahkan mereka ingin menyoba kembali sholat yang lamanya seperti ini di lain waktu. Semoga Allah masih memberikan kesempatan agar bisa melaksanakannya kembali. Aamiin.

      Sekian yang bisa kami sampaikan, jika ada kekurangan dalam penulisan mohon di maafkan.

      Wassalamu'alaikum Wr. Wb


    Top